Python Bukan Nama Ular: Asal-Usul di Balik Acara Komedi

ilustrasi awal python tercipta hingga saat ini dan fumgsi utama python itu sendiri

Python Bukan Nama Ular

    Ketika pertama kali mendengar nama Python, kebanyakan orang mungkin akan membayangkan ular sanca raksasa yang melilit mangsanya. Dalam pikiran mereka, nama itu terdengar kuat, misterius, dan agak menakutkan, cocok untuk sebuah bahasa pemrograman yang kini menjadi raksasa di dunia teknologi. Namun, kenyataannya jauh lebih kocak, aneh, dan penuh kejutan. Nama Python tidak ada hubungannya dengan reptil. Sebaliknya, ia adalah sebuah lelucon, sebuah tribut yang tulus, dan sebuah pernyataan filosofis, semuanya tersembunyi di balik acara komedi Inggris legendaris: “Monty Python's Flying Circus.”

    Artikel ini akan membawa Anda pada perjalanan yang tidak biasa, mengungkap kisah di balik nama Python dan bagaimana asal-usul yang unik ini menjadi cerminan sempurna dari jiwa bahasa pemrograman itu sendiri. Kita akan melihat bagaimana selera humor Guido van Rossum dan sebuah acara televisi klasik membentuk fondasi dari sesuatu yang kini digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Di Balik Tirai Kegelisahan Programmer

    Untuk memahami mengapa Python dinamai seperti itu, kita harus kembali ke akhir tahun 1980-an. Saat itu, Guido van Rossum sedang bekerja di Centrum Wiskunde & Informatica (CWI) di Amsterdam. Ia sedang menghadapi masalah yang sangat umum di kalangan programmer: alat yang mereka miliki tidak memuaskan.

    Di satu sisi, ada bahasa-bahasa yang kuat, seperti C dan C++. Bahasa-bahasa ini adalah mesin-mesin yang bisa melakukan apa saja, tetapi mereka sangat rumit. Sintaksnya kaku, manajemen memorinya merepotkan, dan kesalahan kecil bisa berujung pada kekacauan besar. Menggunakan bahasa-bahasa ini untuk proyek-proyek kecil terasa seperti menggunakan palu godam untuk memasang paku kecil. Hasilnya mungkin bagus, tetapi prosesnya sangat melelahkan dan sering kali tidak efisien.


    Di sisi lain, ada bahasa yang lebih sederhana dan bersih, seperti bahasa ABC. Bahasa ini adalah hasil dari proyek yang melibatkan Guido sendiri. ABC sangat mudah dibaca, sintaksnya minimalis, dan sempurna untuk pemula. Masalahnya, ia terlalu kaku dan tidak bisa diperluas. Ibaratnya, ABC adalah sebuah pensil yang hebat, tetapi Anda tidak bisa menggunakannya untuk melukis dengan cat air. Guido menginginkan sesuatu yang fleksibel, yang bisa tumbuh dan berkembang, tetapi tetap mempertahankan keindahan dan kesederhanaan.

    Dalam kegelisahan intelektual inilah, ide untuk menciptakan bahasa pemrograman baru mulai bersemi. Guido membayangkan sebuah bahasa yang akan menjembatani jurang antara kesederhanaan dan kekuatan. Sebuah bahasa yang bisa digunakan untuk skrip sehari-hari, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi aplikasi yang lebih besar. Proyek ini tidak didanai oleh siapa pun dan tidak memiliki tenggat waktu. Itu murni sebuah tantangan pribadi, sebuah proyek hobi yang ia mulai di waktu luang selama liburan Natal tahun 1989.

Penggemar Berat Monty Python

    Di tengah kesibukannya merancang sintaks yang elegan dan mudah dibaca, Guido menghadapi tugas yang sering kali diabaikan oleh para insinyur: menemukan nama yang tepat. Ia membutuhkan nama yang tidak hanya unik, tetapi juga mencerminkan karakter dari bahasa yang ia bangun. Ia ingin nama itu terdengar menyenangkan, bukan menakutkan atau terlalu serius.

    Pada saat itu, Guido adalah penggemar berat serial komedi Inggris yang absurd dan jenius, “Monty Python's Flying Circus.” Serial ini, yang pertama kali tayang di BBC pada tahun 1969, dikenal karena humornya yang aneh, sketsa yang tidak masuk akal, dan karakter-karakter yang tak terlupakan. Humor mereka sering kali mengejutkan, mematahkan aturan, dan keluar dari jalur—semua hal yang juga ingin dilakukan Guido dengan bahasa pemrogramannya.

    Nama "Monty Python's Flying Circus" itu sendiri sudah aneh. "Monty Python" adalah nama yang tidak memiliki makna, dipilih hanya karena terdengar lucu. "Flying Circus" ditambahkan setelahnya untuk memberikan kesan yang lebih aneh dan tak terduga.

    Bagi Guido, acara ini bukan hanya hiburan. Ia adalah manifestasi dari kreativitas tanpa batas, pemikiran di luar kotak, dan kegembiraan dalam menciptakan sesuatu yang unik. Ia melihat bahwa bahasa pemrogramannya memiliki semangat yang sama. Ia ingin Python menjadi alat yang kreatif dan tidak dibatasi oleh aturan-aturan kaku yang ada.

    Jadi, ketika tiba saatnya untuk menamai proyeknya, Guido mengambil jalan yang tidak konvensional. Ia menyingkirkan nama-nama yang terdengar formal atau teknis. Ia tidak ingin bahasa pemrogramannya terdengar seperti nama-nama ilmiah yang membosankan. Ia menginginkan sesuatu yang ringan, berkesan, dan mudah diingat.

    Ia memutuskan untuk menamai proyeknya "Python," sebuah nama yang langsung mengingatkan pada acara komedi favoritnya.

Nama yang Mencerminkan Filosofi

    Pemilihan nama ini jauh lebih dari sekadar lelucon. Nama "Python" adalah sebuah deklarasi. Ini adalah sebuah pernyataan filosofis tentang bagaimana bahasa ini seharusnya digunakan dan dirasakan.

    1. Kesederhanaan dan Keterbacaan: Sama seperti sketsa Monty Python yang sering kali absurd namun disampaikan dengan lugas, kode Python dirancang untuk lugas dan mudah dibaca. Tidak ada tanda kurung kurawal yang berlebihan atau sintaks yang rumit. Kode Python dimaksudkan untuk dibaca seperti bahasa Inggris, sebuah konsep yang langsung didukung oleh filosofi "The Zen of Python."

    2. Humor dan Kemudahan: Dunia pemrograman bisa jadi sangat serius. Kesalahan kecil bisa menyebabkan frustrasi berjam-jam. Dengan nama yang berasal dari komedi, Guido memberikan sentuhan humanis pada bahasa ini. Ia secara tidak langsung mengatakan, "Tidak apa-apa untuk bersenang-senang saat Anda coding." Hal ini memberikan kesan bahwa Python adalah bahasa yang ramah, tidak menuntut kesempurnaan mutlak, dan bisa dinikmati oleh siapa saja.

    3. Komunitas dan Budaya: Lelucon dan referensi dari Monty Python menjadi semacam bahasa rahasia bagi para programmer awal Python. Mereka menciptakan istilah seperti "eggs" dan "spam," yang berasal dari sketsa Monty Python yang terkenal. Ini tidak hanya menjadi lelucon internal, tetapi juga membantu membentuk komunitas yang erat dan penuh dukungan. Orang-orang yang menggunakan Python tidak hanya berbagi kode, mereka juga berbagi selera humor.

    Guido van Rossum bisa saja memilih nama yang lebih teknis, seperti "GuidoScript" atau "Amsterdam Programming Language." Tetapi nama-nama itu akan terasa berat, membosankan, dan tidak mencerminkan semangat sejati dari bahasa tersebut. Nama "Python" secara sempurna menangkap esensi dari apa yang membuatnya berbeda: ia kuat, tetapi tidak sombong; serius dalam fungsinya, tetapi tetap ringan dan menyenangkan dalam semangatnya.

Nama yang Bertahan dan Menjadi Ikon

    Selama bertahun-tahun, Python tumbuh dari proyek hobi menjadi kekuatan global. Para programmer di seluruh dunia mengadopsinya, dan mereka terus-menerus terkejut dengan nama yang unik ini. Bahkan logo Python yang kita kenal sekarang—dua ular yang saling melilit—adalah interpretasi visual dari nama ini, meskipun aslinya tidak ada hubungannya dengan ular.

    Setiap kali seseorang bertanya tentang asal-usul nama Python, mereka akan mendapatkan cerita yang mengejutkan, dan sering kali, mereka akan merasa terinspirasi olehnya. Cerita ini mengajarkan bahwa hal-hal besar bisa lahir dari tempat-tempat yang tak terduga. Tidak semua penemuan harus memiliki nama yang megah atau serius. Terkadang, nama yang paling kreatif dan berkesan adalah yang paling sederhana.

    Pada akhirnya, kisah di balik nama Python adalah sebuah pengingat bahwa keunikan, kreativitas, dan bahkan humor, adalah bagian integral dari inovasi. Guido van Rossum tidak hanya menciptakan sebuah bahasa; ia menciptakan sebuah budaya. Ia membuat dunia pemrograman menjadi tempat yang sedikit lebih menyenangkan, satu baris kode pada satu waktu, dan itu semua dimulai dengan sebuah acara komedi yang tak terlupakan.

Komentar