Kisah Awal Pencipta Python
Setiap kali kita membuka komputer dan melihat kode, kita seperti sedang menyaksikan sebuah karya seni. Namun, jarang sekali kita menoleh ke belakang, mencari tahu siapa sosok seniman di balik mahakarya tersebut. Di balik bahasa pemrograman yang paling dicintai, Python, ada kisah yang jauh dari ambisi raksasa. Kisah ini dimulai dengan seorang pria bernama Guido van Rossum, sebuah masalah yang membuatnya frustrasi, dan sebuah keputusan yang diambilnya di saat liburan.
Ini bukan kisah tentang perusahaan teknologi besar, melainkan cerita personal seorang programmer yang hanya ingin membuat hidupnya dan pekerjaan teman-temannya sedikit lebih mudah. Kita akan menyelami pikiran Guido di penghujung tahun 1980-an, sebuah periode krusial yang pada akhirnya melahirkan revolusi diam-diam di dunia coding.
Dilema di Ruang Riset Amsterdam
Bayangkan diri Anda berada di Centrum Wiskunde & Informatica (CWI), sebuah lembaga riset matematika dan ilmu komputer terkemuka di Amsterdam, Belanda, pada akhir tahun 1980-an. Lingkungan ini dipenuhi oleh para pemikir brilian, tetapi alat kerja mereka, bahasa pemrograman, terasa seperti pilihan yang serba salah.
Di satu sisi, ada bahasa seperti C dan C++. Mereka adalah “monster” yang sangat kuat, cepat, dan efisien. Namun, untuk sekadar menulis program sederhana, Anda harus menghadapi sintaks yang rumit, manajemen memori yang membingungkan, dan kurva belajar yang curam. Menggunakan C untuk tugas kecil terasa seperti menggunakan crane raksasa hanya untuk mengangkat sebuah batu bata. Tentu bisa, tapi itu tidak praktis dan melelahkan.
Di sisi lain, ada bahasa yang dirancang untuk kesederhanaan, seperti bahasa ABC. Guido sendiri adalah bagian dari tim yang mengembangkan bahasa ini. ABC memang sangat elegan, mudah dibaca, dan cocok untuk mengajar pemrograman. Namun, ia memiliki keterbatasan fatal: tidak dapat diperluas. Bahasa ini seperti alat makan yang hanya punya satu fungsi; Anda bisa menggunakannya untuk tugas spesifik, tetapi saat Anda butuh pisau, sendok, atau garpu, Anda harus beralih ke alat lain. Guido butuh sesuatu yang lebih dari itu. Ia butuh sebuah bahasa yang bisa menjadi pedangnya dan juga perisainya.
Kondisi inilah yang menciptakan sebuah lubang menganga di hati seorang programmer. Guido van Rossum tidak menginginkan pilihan antara kekuatan tanpa kemudahan atau kemudahan tanpa kekuatan. Ia mendambakan sebuah bahasa yang intuitif dan mudah dipahami, tetapi pada saat yang sama, memiliki kemampuan untuk menangani proyek-proyek yang kompleks.
Proyek Natal dan Lahirnya Nama Unik
Tekanan untuk menciptakan bahasa baru tidak datang dari atasan atau tenggat waktu. Sebaliknya, itu datang dari rasa penasaran yang tak terbendung. Suatu hari di penghujung tahun 1989, menjelang liburan Natal yang sepi, Guido van Rossum memutuskan untuk mengambil langkah. Ia butuh proyek pribadi untuk mengisi waktu luangnya, dan ia tahu persis apa yang ingin ia bangun: bahasa pemrograman yang ia impikan.
"Saya butuh sesuatu yang bisa saya gunakan untuk proyek-proyek kecil dan skrip, yang cepat untuk ditulis, dan mudah dipahami," pikirnya. Tujuannya sederhana: membuat tool yang bisa ia nikmati, tanpa aturan atau tuntutan dari siapa pun.
Saat ia mulai merancang sintaks, satu hal yang ia jadikan prioritas adalah keterbacaan. Ia ingin kode-kode itu terlihat bersih, seperti paragraf yang ditulis dengan baik. Ia membuang tanda kurung kurawal {} yang membingungkan dan menggantinya dengan indentasi yang jelas, sebuah fitur yang kini menjadi ciri khas utama Python. Pilihan ini adalah sebuah pernyataan berani yang menekankan bahwa kode ditulis untuk manusia, bukan hanya untuk mesin.
Dan kemudian, muncullah pertanyaan tentang nama. Guido menyadari bahwa nama yang serius bisa membuat proyeknya terasa berat. Mengingat ia adalah penggemar berat serial komedi Inggris, "Monty Python's Flying Circus," ia mendapatkan inspirasi yang jenius dan tidak terduga. Ia memutuskan untuk menamai proyeknya "Python."
Keputusan ini adalah sebuah metafora yang sempurna. Python bukanlah bahasa yang megah atau menakutkan, seperti namanya yang berasal dari ular raksasa. Sebaliknya, ia adalah bahasa yang santai, memiliki selera humor, dan tidak menganggap dirinya terlalu serius. Nama ini menetapkan nada filosofi yang akan memandu perkembangannya di masa depan.
Python 0.9.0 dan Fondasi Filosofis
Pada bulan Februari 1991, hasil dari proyek Natal yang sederhana itu akhirnya dirilis secara publik sebagai Python 0.9.0. Ini bukanlah rilis yang menggemparkan. Tidak ada konferensi pers atau berita utama di koran. Python disebarkan melalui grup Usenet, sebuah forum online yang menjadi cikal bakal komunitas internet.
Meskipun masih sangat sederhana, rilis ini sudah memiliki fondasi yang kuat. Di dalamnya sudah ada fitur-fitur yang kini kita anggap remeh, seperti:
- Tipe data list dan dictionary, yang menjadi tulang punggung untuk mengolah data.
- Fungsi dan kelas dasar, yang membuka pintu untuk pemrograman berorientasi objek (OOP).
- Penanganan exception, yang membuat kode lebih tangguh saat terjadi kesalahan.
Yang terpenting, Python 0.9.0 sudah memancarkan filosofi intinya. Filosofi ini kemudian dirangkum dalam PEP 20, yang dikenal sebagai “The Zen of Python,” sebuah panduan singkat yang mendalam bagi setiap programmer Python. Prinsip-prinsip ini, yang ditulis oleh Tim Peters, mencerminkan visi awal Guido:
- Beautiful is better than ugly. (Indah lebih baik daripada jelek)
- Simple is better than complex. (Sederhana lebih baik daripada rumit)
- Readability counts. (Keterbacaan itu penting)
Ini adalah deklarasi yang kuat. Guido tidak hanya membuat bahasa; ia menciptakan budaya. Ia menantang norma-norma yang ada di dunia coding dengan mengatakan bahwa kode harus dapat dibaca dan dipahami, bahkan oleh orang lain selain yang menulisnya. Ini adalah revolusi etika, bukan hanya teknologi.
Dari Proyek Pribadi Menjadi Gerakan Komunitas
Sejak awal, Python tidak didorong oleh perusahaan mana pun. Pertumbuhannya organik, dari mulut ke mulut. Para programmer yang menemukan Python merasa seperti menemukan oase di tengah gurun. Mereka langsung jatuh cinta pada cara kerjanya yang elegan dan efisien.
Guido van Rossum adalah pemimpin yang bijak. Ia tidak pernah mencoba mengendalikan Python dengan ketat. Sebaliknya, ia menumbuhkan komunitas dan mendengarkan masukan mereka. Ia dikenal sebagai "Benevolent Dictator For Life" (BDFL), sebuah julukan yang menunjukkan kekuasaannya yang pada dasarnya mutlak, namun digunakan dengan bijaksana untuk kebaikan komunitas. Ia membuat keputusan-keputusan sulit yang menjaga konsistensi dan integritas bahasa.
Keputusan untuk membuatnya sepenuhnya open-source adalah salah satu kunci kesuksesan Python. Siapa pun bisa melihat kode sumbernya, berkontribusi, dan membangun di atasnya. Ini mendorong kolaborasi global yang tak terbayangkan. Ribuan orang, dari seluruh dunia, mulai berkontribusi dengan membuat pustaka (library) baru, memperbaiki bug, dan menulis dokumentasi.
Pada tahun 2001, Python Software Foundation (PSF) didirikan. Organisasi nirlaba ini mengambil alih tanggung jawab untuk mengelola bahasa, memastikan perkembangannya tetap stabil dan bebas dari pengaruh komersial yang berlebihan. Ini adalah langkah krusial yang memastikan bahwa Python tidak akan pernah menjadi alat satu perusahaan saja.
Warisan yang Berkelanjutan
Hari ini, Python adalah bahasa pemrograman yang serbaguna, digunakan di hampir setiap bidang teknologi:
- Pengembangan Web: Berkat framework seperti Django dan Flask.
- Analisis Data: Dengan pustaka Pandas, NumPy, dan SciPy.
- Kecerdasan Buatan: Menjadi bahasa standar untuk machine learning dan deep learning dengan TensorFlow dan PyTorch.
- Otomasi dan Skrip: Sederhananya sintaks membuatnya ideal untuk tugas-tugas harian.
Semua ini tidak akan terjadi tanpa visi sederhana Guido van Rossum di sebuah liburan Natal. Ia tidak merancang Python untuk menjadi yang tercepat atau terkuat. Ia merancangnya untuk menjadi yang terbaik bagi manusia. Ia ingin kita menikmati proses menulis kode, bukan hanya melihatnya sebagai tugas.
Pada akhirnya, kisah Guido adalah pengingat bahwa inovasi terbesar sering kali lahir dari solusi pribadi untuk masalah pribadi. Ide sederhana untuk membuat hidup lebih mudah pada akhirnya menciptakan dampak yang melampaui batas-batas dunia coding dan mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi. Python bukan hanya bahasa; ia adalah filosofi yang lahir dari hasrat untuk keindahan, kesederhanaan, dan kebaikan.

Komentar
Posting Komentar